Gue sering banget ketemu sesama traveler yang ngobrol soal pertanian pas lagi di perjalanan. Entah itu lagi nongkrong di warung kopi dekat sawah Ubud, atau lagi nunggu sunrise di puncak Bukit Sikunir. Topiknya selalu menarik: soal padi, soal kebun, soal petani lokal. Tapi sayangnya, banyak dari kita — termasuk gue dulu — bawa mitos yang ternyata salah kaprah.
Nah, dua mitos paling populer yang sering gue dengar adalah soal sawah terasering dan hidroponik. Keduanya sering dijadikan bahan obrolan sambil foto-foto, tapi faktanya nggak sesederhana yang kita kira. Yuk, kita bongkar satu-satu.
Baca juga: 5 Hal yang Berubah Setelah Sebulan Ikut Kebun Komunal
Mitos 1: Sawah Terasering Itu Cuma Buat Estetika
Ini mitos yang paling sering gue dengar. Setiap kali mampir ke Tegalalang atau Jatiluwih, pasti ada aja yang bilang, "Sawahnya dibikin bertingkat biar cakep buat foto, ya?" Duh, kawan. Kalau petani dengar itu, bisa-bisa mereka ketawa sambil geleng-geleng kepala.
Terasering itu bukan proyek estetika. Itu solusi teknis yang dipakai petani di daerah miring selama berabad-abad. Tujuannya ada tiga: menahan erosi, mengatur aliran air, dan memaksimalkan lahan di kontur bukit yang nggak rata. Kalau nggak diteras, hujan sekali deras bisa bikin tanah lapisan atas hilang terbawa air. Padi pun nggak akan tumbuh.
Jadi, waktu kamu berdiri di tepi terasering dan bilang "indah banget," itu benar. Tapi keindahannya adalah efek samping dari kerja keras dan pengetahuan turun-temurun. Bukan tujuan utamanya.
"Terasering adalah jawaban petani atas tanah yang menantang, bukan dekorasi untuk kamera kita."
Kenapa mitos ini bikin kita salah paham?
Karena kita sebagai traveler sering cuma lihat permukaannya. Kita datang, foto, upload, pulang. Kita nggak lihat bagaimana petani mengatur pintu air (bukan sembarang parit), bagaimana mereka rotasi tanaman, atau bagaimana satu subak bisa melibatkan puluhan keluarga. Sistem irigasi tradisional di Bali, misalnya, itu kompleks dan diatur lewat musyawarah adat. Bukan sekadar "bikin cantik".
Gue pernah ngobrol sama seorang petani di Jatiluwih. Dia bilang, "Kalau cuma untuk cantik, kami nggak akan bangun selama bertahun-tahun." Itu kalimat yang nempel banget di kepala gue sampai sekarang.
Mitos 2: Hidroponik Itu Pertanian Tanpa Tanah, Jadi Pasti Lebih Mudah
Nah, ini mitos kedua yang sering muncul di kalangan traveler urban. Kita lihat kebun hidroponik di rooftop kafe atau di kawasan wisata edukasi, terus mikir, "Wah, gampang nih, tinggal kasih air nutrisi, beres." Kenyataannya? Jauh dari gampang.
Hidroponik memang nggak pakai tanah. Tapi bukan berarti nggak butuh perhatian ekstra. Justru sebaliknya. Karena nggak ada tanah yang menyangga akar dan menyimpan nutrisi, semua harus dikontrol manual atau semi-otomatis. pH air, kepekatan nutrisi (EC), suhu, sirkulasi oksigen, dan kebersihan sistem — semuanya harus dijaga ketat.
Kalau di tanah, ada buffer alami. Tanaman bisa sedikit "sabar" kalau kita lupa pupuk sehari. Di hidroponik, lupa sehari bisa bikin tanaman stres, dan lupa tiga hari bisa mati.
Yang sering dilupakan traveler
Waktu kita berkunjung ke kebun hidroponik di daerah wisata, kita lihat hasilnya yang rapi, bersih, dan instagramable. Kita nggak lihat jam-jam petani atau pengelola mengecek TDS meter, menambah nutrisi A dan B, atau membersihkan pipa dari lumut. Kita juga nggak lihat biaya listrik untuk pompa dan lampu grow light kalau indoor.
Jadi, anggapan "hidroponik itu pertanian masa depan yang gampang" perlu dikoreksi. Hidroponik itu efisien dalam ruang dan air, tapi intensif dalam tenaga dan pengetahuan. Bukan jalan pintas.
Kenapa Dua Mitos Ini Penting Buat Kita yang Suka Jalan-jalan?
Karena sebagai traveler, kita punya kekuatan kecil tapi nyata: cara kita bercerita. Kalau kita pulang dari Ubud dan bilang ke teman, "Sawah terasering itu cuma buat foto," kita ikut menyebarkan kesalahpahaman. Tapi kalau kita pulang dan bilang, "Ternyata terasering itu teknologi kuno yang canggih," kita ikut menghargai kerja petani.
Hal yang sama berlaku untuk hidroponik. Kalau kita menganggapnya sepele, kita nggak akan pernah menghargai petani muda yang ngoprek sistem di garasi atau rooftop. Padahal mereka sedang bereksperimen dengan cara bercocok tanam yang bisa jadi penting di masa depan, apalagi di kota-kota yang lahannya makin sempit.
Gue sendiri dulu sempat mikir, "Ah, hidroponik mah tinggal beli kit, ikutin instruksi, jadi." Ternyata waktu gue coba sendiri di balkon, tanaman kangkung gue mati dalam dua minggu. Kenapa? Karena gue lupa cek pH air. Pelajaran mahal.
Jadi, Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan Saat Traveling?
Nggak perlu jadi ahli pertanian. Cukup lakukan tiga hal sederhana ini:
- Tanya, jangan berasumsi. Kalau ketemu petani atau pengelola kebun, tanya langsung. "Kenapa dibuat teras?" atau "Apa tantangan terbesar hidroponik?" Jawabannya biasanya jauh lebih menarik dari yang kita bayangkan.
- Hargai proses, bukan cuma hasil. Foto sawah boleh, tapi coba juga lihat bagaimana air mengalir, bagaimana petani menanam, bagaimana sistem dibangun.
- Bagikan cerita yang benar. Setelah pulang, ceritakan fakta, bukan mitos. Itu bentuk terima kasih paling murah ke petani yang udah bikin perjalanan kita lebih indah.
Pertanian itu bukan latar belakang foto. Ia adalah sistem hidup yang kompleks, penuh pengetahuan, dan terus berkembang. Baik itu terasering di Bali atau hidroponik di rooftop Jakarta, keduanya punya cerita yang layak kita dengar — bukan sekadar kita foto.
Jadi, lain kali kamu jalan-jalan dan lihat sawah atau kebun, coba deh berhenti sebentar. Jangan cuma lihat. Coba pahami. Karena di situ ada ilmu yang nggak diajarkan di sekolah, tapi justru paling dekat dengan hidup kita sehari-hari.